Kontan.co.id

Sawah serta Masjid di Aceh Utara Pulih, Rp2 Miliar Lebih untuk Bangkit Pascabanjir

Proses pemulihan pascabencana pada November 2025 terutama di wilayah Aceh Utara, mulai memperlihatkan hasil.

TK
Tim KONTAN Senin, 26 Oktober 2026 | 14:27 WIB
Sawah serta Masjid di Aceh Utara Pulih, Rp2 Miliar Lebih untuk Bangkit Pascabanjir
Area persawahan Di Gampong Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Petani kini bisa menanam kembali setelah pemulihan pascabencana. Bahkan sudah panen. Foto: Tim Media Satgas PRR.

KONTAN.CO.ID -  ACEH UTARA. Proses pemulihan pascabencana pada November 2025 terutama di wilayah Aceh Utara, mulai memperlihatkan hasil. Aktivitas bisa kembali pulih. Persawahan kembali menghasilkan gabah usai panen setelah pemulihan área persawahan yang terdampak, serta masjid kembali bisa digunakan untuk jemaah. Perbaikan kedua fasilitas tersebut adalah bagian dari pemulihan yang dikoordinir Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, dalam upaya mengembalikan mata pencaharian sekaligus memulihkan kehidupan sosial warga setelah banjir pada akhir 2025.

Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan penyesuaian jadwal anggaran tidak boleh mengurangi kegiatan pemulihan yang dibutuhkan masyarakat.

“Kegiatannya nggak boleh dikurangi karena akan berdampak ke masyarakat,” kata Tito.

Keberlanjutan program rehabilitasi dan rekonstruksi terus dijaga. Termasuk pemulihan sektor pertanian serta fasilitas publik yang menopang aktivitas masyarakat di wilayah terdampak bencana.

Di Gampong Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, pemulihan sudah terlihat dari kembalinya petani menggarap sawah setelah sekitar enam bulan terhenti akibat endapan lumpur dan kerusakan saluran irigasi. Bahkan sudah melakukan panen.

Keuchik Gampong Ulee Madon, Zulfikri Idris, mengatakan dari total 105 hektare persawahan di desanya, sekitar 85 hektare telah kembali memperoleh pasokan air dan dapat ditanami. Banjir yang melanda sebelumnya meninggalkan endapan lumpur dengan ketebalan rata-rata sekitar 60 sentimeter.

Pemulihan dilakukan melalui normalisasi saluran irigasi tersier, pembangunan kembali saluran yang rusak, serta penyediaan pompa air dan jaringan listrik. Menurut informasi yang diterima pemerintah gampong, nilai penanganan infrastruktur tersebut sekitar Rp 1,1 miliar.

Selain perbaikan pengairan, petani memperoleh bantuan pengolahan lahan sebesar Rp 900.000 per hektare untuk sekitar 75 hektare sawah.

“Dengan bantuan ini, sekitar 85 hektare lahan sawah masyarakat di Desa Ulee Madon dapat terairi kembali,” ujar Zulfikri.

Dampak pemulihan dirasakan petani setelah panen perdana usai persawahan mereka tidak bisa digunakan karena banjir. M. Nur, salah satu petani mengatakan selama tidak dapat bertani ia harus membeli beras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ia menyebut lahan seluas satu hektare biasanya menghasilkan sekitar tujuh ton gabah dalam satu kali panen. Sementara itu, Zulfikri memperkirakan produktivitas panen kali ini dapat mencapai tujuh hingga 7,5 ton per hektare.

Petani lainnya, Azmi Syafruddin, menyebut panennya diperkirakan hingga 3 ton gabah. Menurut dia, perbaikan saluran irigasi memungkinkan petani kembali bekerja setelah berbulan-bulan kehilangan kesempatan mengolah lahan.

Pemulihan persawahan belum sepenuhnya tuntas. Sekitar 20 hektare dari total lahan desa masih memerlukan penanganan lanjutan, termasuk pengangkatan lumpur dan peninggian saluran agar air dapat menjangkau petak sawah. Petani juga membutuhkan tambahan traktor roda empat dan mesin panen karena musim panen di sejumlah wilayah Aceh Utara berlangsung hampir bersamaan.

Rehabilitasi Masjid Al Izzah

 

 

Masjid Al Izzah Krueng Mane, Gampong Cot Seurani, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Bisa digunakan jumatan setelah pemulihan. Foto: Tim Media Satgas PRR.

 

Fasilitas keagamaan juga dilakukan pemulihan di Aceh. Seperti terhadap Masjid Jamik Al Izzah Krueng Mane, Gampong Cot Seurani, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Banjir pada November 2025 sempat membuat masjid tersebut tidak dapat digunakan untuk kegiatan ibadah selama sekitar empat Jumat berturut-turut.

Peristiwa banjir saat itu membuat aliran air sekitar dua meter masuk, merusak sejumlah perlengkapan. Termasuk Al-Qur’an, buku-buku, pengeras suara, kipas angin, dan fasilitas sanitasi.

Keuchik Cot Seurani Azman Abdul Wahid mengatakan, warga bergotong royong membersihkan masjid sebelum dukungan pemerintah dan berbagai pihak membantu proses pemulihan. Pembersihan lumpur membutuhkan alat berat dan waktu sekitar satu bulan hingga bangunan dapat kembali digunakan.

Saat ini, rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui PT Waskita Karya. Wakil Badan Kemakmuran Masjid, Marzuki menyebut nilai pekerjaan berdasarkan informasi yang diterima pengurus mencapai sekitar Rp 900 juta.

Terhitung pada 22 Oktober 2026, progres pekerjaan telah mencapai sekitar 50% dan ditargetkan selesai pada pertengahan November 2026.

Pekerjaan meliputi perbaikan atap, plafon dan dinding, penataan batas suci, penyempurnaan pipa air, serta pemasangan paving block. Walau sudah bisa digunakan, tetapi sebagian ruang lagi masih sedang dikerjakan. Rehabilitasi tersebut diharapkan membuat kegiatan ibadah masyarakat kembali berjalan dengan lebih nyaman.

Di tingkat provinsi, dukungan untuk pemulihan rumah ibadah juga disalurkan Kementerian Agama. Laporan Harian Satgas PRR Pascabencana Sumatera per 22 Oktober 2026 mencatat sebanyak 1.558 dari total 1.593 rumah ibadah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah kembali beroperasi. Khusus di Aceh, 906 dari 918 rumah ibadah terdampak telah berfungsi kembali. Meski demikian, beroperasinya rumah ibadah tidak otomatis berarti seluruh pekerjaan rehabilitasi bangunan telah selesai.

Rencana Induk PRR Pascabencana

Pemulihan persawahan Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, sejalan dengan arah Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Renduk PRRP Sumatera). Dimana rehabilitasi lahan pertanian dan jaringan pengairan sebagai bagian dari pemulihan mata pencaharian masyarakat.

Pemulihan sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera. Pemerintah merencanakan rehabilitasi lahan sawah terdampak di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, untuk membantu mengembalikan produktivitas pertanian serta menopang pemulihan ekonomi masyarakat.

Berdasarkan Renduk PRRP Sumatera 2026–2028, rencana rehabilitasi mencakup lahan sawah yang mengalami kerusakan ringan maupun sedang. Di Provinsi Aceh, rehabilitasi sawah rusak ringan direncanakan seluas 27.483 hektare dan sawah rusak sedang 13.425 hektare. Di Sumatera Utara, cakupannya masing-masing 22.274 hektare dan 4.500 hektare. Sementara di Sumatera Barat, rehabilitasi direncanakan untuk 2.802 hektare sawah rusak ringan dan 1.100 hektare sawah rusak sedang.

Rehabilitasi sawah diharapkan tidak hanya memulihkan kondisi lahan yang terdampak, tetapi juga mendukung keberlanjutan musim tanam, menjaga produksi pangan, serta membantu petani kembali menjalankan kegiatan ekonomi. Pemulihan lahan perlu berjalan seiring dengan perbaikan jaringan irigasi dan infrastruktur pendukung pertanian agar sawah yang direhabilitasi dapat kembali dimanfaatkan secara optimal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News