KONTAN.CO.ID - Operasi pasar murah yang digelar Pemerintah Kota Medan, Sumatera Utara, menjadi salah satu upaya meringankan beban rumah tangga korban banjir pascabencana hidrometeorologi yang melanda pada November 2025. Melalui program ini, warga bisa membeli beras dan minyak goreng dengan harga lebih rendah, dibandingkan yang biasa mereka beli di warung maupun pasar.
Program operasi pasar murah ini dilakukan di beberapa kelurahan, dengan menyasar masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi. Dua lokasi pelaksanaannya antara lain Kantor Lurah Kota Bangun, Kecamatan Medan Deli, dan Kantor Lurah Sei Putih Timur II, Kecamatan Medan Petisah.
Pada kedua lokasi tersebut, beras dijual Rp13.500 per kilogram dan minyak goreng Rp15.500 per liter. Harga beras lebih rendah sekitar Rp2.000 per kilogram dibandingkan harga beras sejenis di pasar biasa. Sementara minyak goreng dijual sedikit di bawah HET Rp 15.700 per liter.
Jainudin Lubis, warga Sei Putih Timur II, membeli tiga karung beras ukuran lima kilogram dan dua liter minyak goreng. Selisih harga cukup membantu keluarganya, terutama saat pekerjaannya sebagai kuli bangunan lagi tidak menentu.
"Kalau orang yang berumah tangga ini kan cari yang murah-murah. Beda Rp 5.000 sampai Rp 10.000 pun diambil," ujar Jainudin.
Ia menyebut harga beras di pasar murah bisa lebih rendah sekitar Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per karung dibandingkan harga di toko. Karena itu, ia berharap program tersebut dapat dilaksanakan lebih rutin. Dia berharap kegiatan seperti ini bisa rutin hingga dua bulan sekali. Baginya, ini sangat membantu.
"Jadi bisa nabung sekian, bisa terbantu lah.," katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Nizam, warga Kelurahan Kota Bangun yang pernah mengalami banjir hingga setinggi sekitar satu meter akibat luapan Sungai Deli. Rumahnya sempat terendam selama tiga hingga empat hari. Setelah kehilangan pekerjaan tetap, ia mengandalkan pekerjaan serabutan, termasuk membantu servis pendingin ruangan.
Nizam datang ke pasar murah untuk membeli minyak goreng karena persediaan di rumah sedang habis. Ia membeli dengan harga Rp 15.500 per liter, lebih murah dibandingkan harga sekitar Rp 18.000 di warung.
"Membantu kali lah, kalau lagi enggak ada uang kayak gini," ujarnya.
Lurah Sei Putih Timur II Arizona Xaverius Siregar mengatakan, sekitar 1.300 kepala keluarga di wilayahnya terdampak banjir pada akhir 2025. Warga yang tinggal di Lingkungan V, terutama di sekitar bantaran Sungai Sei Putih, menjadi kelompok yang paling terdampak. Ketinggian air di sejumlah rumah bahkan mencapai sekitar satu meter.
Pasar murah bermanfaat bukan hanya ketika terjadi bencana. Tetapi untuk membantu masyarakat menghadapi tekanan harga kebutuhan pokok.
"Warga bisa membeli beras dan minyak dengan harga lebih terjangkau. Jadi kalau bisa, pasar murah ini jangan hanya pas bencana. Tidak bencana pun sangat bermanfaat," katanya.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Perdagangan dan Kemetrologian Diskop UKM Perindag Kota Medan, Isnaini Hairina, menjelaskan operasi pasar murah diselenggarakan secara bergiliran di 19 kecamatan terdampak bencana hidrometeorologi. Program dimulai Agustus 2026 dan direncanakan berlangsung sampai Desember 2026.
Pemerintah menyiapkan 500 karung veras per kelurahan setiap hari, dan juga 50 kotak minyak goreng. Setiap kotak berisi 12 kemasan. Warga yang ingin membeli harus menunjukkan KTP dan berdomisili di kelurahan tempat operasi pasar berlangsung.
Untuk menjamin pemerataan, pembelian beras dibatasi maksimal 20 kilogram atau empat karung ukuran lima kilogram per orang per hari.
Adapun pembiayaan operasi pasar murah tersebut bersumber dari tambahan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp1,23 miliar (Rp 1.233.918.000). Kepala Diskop UKM Perindag Kota Medan Hendra Ridho Gunawan Siregar mengatakan anggaran itu dialokasikan untuk pelaksanaan pasar murah di 19 kecamatan terdampak.
TKD Tambahan adalah tambahan alokasi Dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat yang diberikan kepada pemerintah daerah tertentu di luar dana TKD reguler. Peruntukannya antara lain untuk keperluan mendesak, pemulihan pascabencana, atau menjaga stabilitas fiskal dan operasional daerah.
Menurut Surat Edaran Kemendagri tentang urat Edaran M tambahan Transfer ke Daerah (TKD) Tahun Anggaran 2026, TKD Tambahan dapat digunakan di sepanjang rangkaian penanganan bencanam, baik untuk kebutuhan prabencana, tahap darurat bencana, maupun tahap pascabencana.
Untuk tahap pascabencana, TKD Tambahan dapat digunakan untuk kegiatan pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya, seperti kegiatan operasi pasar murah. Selain itu, TKD Tambahan juga dapat digunakan untuk perbaikan lingkungan daerah bencana; perbaikan prasarana dan sarana umum; pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat; pemulihan sosial psikologis; pelayanan kesehatan; rekonsiliasi dan resolusi konflik; pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya; pemulihan keamanan dan ketertiban; pemulihan fungsi pemerintahan; dan pemulihan fungsi pelayanan publik.
Operasi pasar murah memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut pembangunan kembali infrastruktur, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar dan penguatan daya beli masyarakat.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengatakan pemerintah daerah yang menerima tambahan TKD memiliki ruang untuk memanfaatkannya sesuai kebutuhan, termasuk untuk memperkuat mitigasi bencana.
"Nah, bagi yang tidak terkena, silakan digunakan, dalam rangka untuk antisipasi bencana. Itu luas. Saya berikan kesempatan luas sekali, penggunaannya. Ya, bisa untuk membangun, memperkuat jalan, memperkuat jembatan, memperkuat infrastruktur, daerah-daerah yang rawan bencana,” ujar Tito.
Renduk PRRP Sumatera: Pemulihan Ekonomi dan Revitalisasi Pasar
Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera menempatkan pemulihan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi. Bencana di wilayah Sumatera bagian utara telah mengganggu rantai pasok, menurunkan produktivitas, serta meningkatkan kerentanan sosial ekonomi warga terdampak.
Rencana aksi pemulihan mencakup pembangunan dan revitalisasi pasar rakyat, peningkatan infrastruktur irigasi dan jalan pertanian, serta pengembangan koperasi dan UMKM, termasuk fasilitas pergudangan. Revitalisasi pasar juga diarahkan dengan memperhatikan risiko banjir, akses darurat, dan fasilitas penyimpanan yang tahan terhadap cuaca ekstrem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News