KONTAN.CO.ID - AGAM – Jaringan irigasi menjadi salah satu infrastruktur yang penting dalam proses pemulihan Sumatera pascabencana 2025 lalu. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat merehabilitasi irigasi Batang Sianok di Kabupaten Agam.
Tujuannya adalah memulihkan pasokan air bagi lahan pertanian yang terdampak banjir bandang. Proyek senilai Rp2,43 miliar tersebut ditargetkan selesai pada akhir Desember 2026.
Sampai dengan awal November 2026, dari pemantauan progres fisik rehabilitasi sudah 60%. Pekerjaan berlangsung di sejumlah titik sepanjang koridor sekitar 3,5 kilometer yang melintasi wilayah Nagari Koto Tuo, Sianok Anam Suku, dan Koto Gadang.
Proyek tersebut didanai melalui skema Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan dalam APBD Perubahan 2026 itu mencakup pembangunan bendung suplesi, penguatan tebing, serta rekonstruksi saluran irigasi yang rusak akibat longsor.
TKD Tambahan ialah transfer dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah di luar TKD regular. Tujuan utamanya ialah untuk membantu kapasitas keuangan daerah dalam rangka pemulihan bencana, pelayanan publik dan kebutuhan mendesak lainnya.
Pembangunan yang dinilai penting diantaranya adalah turap atau dinding penahan tanah dengan ketinggian sampai 7 meter. Saluran irigasi 284 meter kembali dibangun dengan menggunakan konstruksi tertutup atau box culvert pada segmen yang dianggap sangat rawan tertimbun longsor.
Rehabilitasi ini sangat beralasan, karena pada peristiwa galodo yang terjadi November 2025 lalu, berbagai material batu dan Lumpur sampai menutupi saluran irigasi tersebut. Pada beberapa titik bahkan ketinggian material tersebut hingga 5 meter. Akibatnya saluran air terhenti.
Petani di wilayah hilir yang ikut merasakan dampaknya. Ada ratusan hektar persawahan di Nagari Sianok Anam Suku dan Koto Gadang, kekeringan. Petani tidak bisa berbuat apa-apa, sampai mereka terpaksa membiarkan sawah-sawah itu tidak tergarap berbulan-bulan karena ketiadaan air.
Elsa, salah satu diantara petani itu, mengatakan sekitar 15 petak sawah miliknya tidak dapat diolah akibat terputusnya aliran irigasi. Ketika ia mencoba beralih dengan menanam jagung, pun ternyata terkendala karena tanaman itu sering dirusak hama babi hutan.
Berdasarkan data Inventarisasi Kondisi Sistem Irigasi (IKSI) 2026, Daerah Irigasi Batang Sianok memiliki luas areal layanan tercatat 1.285 hektare. Jaringan irigasinya membentang sepanjang 34,21 kilometer, terdiri dari saluran primer, sekunder, tersier, dan kuarter.
Kepala Tukang Proyek DI Batang Sianok, Kamiling, mengatakan saat ini pekerjaan masih berlangsung di sejumlah titik agar seluruh saluran dapat berfungsi kembali. Pengaliran air belum dilakukan karena pengerjaan fisik di sepanjang jalur irigasi masih berjalan.
“Pekerjaan ini selesai akhir Desember, dan air akan mengalir," kata Kamiling.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan pentingnya pemulihan infrastruktur sungai karena berkaitan langsung dengan kegiatan ekonomi masyarakat, terutama sektor pertanian dan perikanan.
"Sungai bagi saya penting, ini akan makan waktu panjang untuk sungai karena jumlahnya banyak. Totalnya itu banyak yang sedimen, panjang dan lebar. Penanganan ini mendesak karena berkaitan langsung dengan sawah dan tambak milik warga," kata Tito.
Menurut Tito, normalisasi dan pemulihan sungai menjadi bagian dari penanganan jangka panjang pascabencana. Infrastruktur sumber daya air yang berfungsi baik dibutuhkan untuk mendukung irigasi dan mengembalikan produktivitas lahan pertanian masyarakat.
Penguatan Irigasi dalam Renduk PRRP Sumatera
Renduk PRRP Sumatera 2026–2028 menempatkan penguatan irigasi sebagai salah satu strategi rehabilitasi infrastruktur sumber daya air di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Arah kebijakan tersebut mencakup pemulihan sistem sumber daya air secara terintegrasi, peningkatan kapasitas infrastruktur, rehabilitasi jaringan sungai, serta penguatan sistem irigasi. Pelaksanaannya mengacu pada prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable (BBBSS).
Dengan pendekatan tersebut, rehabilitasi irigasi tidak hanya diarahkan untuk mengembalikan fungsi saluran yang rusak, tetapi juga memperkuat ketahanan infrastruktur agar mampu menghadapi risiko bencana berikutnya. Pemulihan jaringan air di Batang Sianok diharapkan dapat mendukung kembali kegiatan tanam dan produktivitas pertanian di kawasan layanan irigasi tersebut. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News